Sukacita dalam Kristus yang tidak kelihatan
Published by Stanley Pouw in 2010 · 31 January 2010
“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, 9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”
Saya ingin mulai dengan pertanyaan ini: Mengapa Petrus menceritakan kepada orang-orang Kristen pengalaman mereka. Dia mengtakan, Anda mengasihi Kristus, Anda percaya Kristus, bersuka cita dalam Kristus dengan dengan mulia yang tidak terkatakan walaupun Anda belum pernah melihat Dia.” Mengapa? Mengapa menceritakan kepada mereka pengalaman mereka sendiri?
Alasannya adalah keinginannya menggambarkan Kekristenan tulen sebenarnya kepada mereka. Dan dia ingin melakukan itu dengan cara khusus, sehingga jika mereka melupakannya, mereka akan memiliki suatu patokan tertentu untuk mengingatkan mereka kembali kepada apa yang telah terjadi, supaya mereka akan sadar kembali dan berbalik kepada apa yang kehilangan.
Saya menggambarkannya seperti ini (Ini bukan gambaran sempurna, namun ini akan menolong kita mengerti mengapa Petrus membicarakan pengalaman mereka sendiri): Kekristenan sejati sepertinya berenang melawan arah dalam sungai penuh kefasikan dan bagi kita itu berarti kefasikan Amerika dan Indonesia.
Kita berenang dengan gerakan kasih kepada Kristus, dengan gerakan iman kepada Kristus, dan gerakan suka cita di dalam Kristus. Dan sementara kita berenang, kita tidak terbawa arus kefasikan kepada air terjun penghakiman yang mengerikan ke hilir sungai.
Allah memelihara kita, seperti dikatakan di ayat 5, oleh iman. Dia memberikan kita kesanggupan untuk berenang terus melawan arus dengan gerakan iman, kasih dan sukacita, sehingga kita tidak terbawa arus kefasikan besar masyarakat kita sekarang.
Pelatih renang kita, rasul Petrus, berada di tepi sungai memperhatikan kita dan mengikuti kita. Dan ketika kita berenang baik, dia berseru,”Lihat kesini, kau baik-baik sekarang, saya akan memasang sebuah bendera sama dengan posisi dimana Anda berada di sungai sekarang. Tandailah ini. Disinilah di mana Anda berada.” Itulah yang dia lakukan dengan kita di ayat 8-9.
Alasannya adalah jika kita berhenti berenang dengan gerakan kasih untuk Yesus, dan gerakan iman kepada Yesus dan gerakan suka cita untuk Yesus, dan kita mulai hanya mengambang ke hilir sungai kefasikan, kita dapat bangun dan dapat melihat dan menyadari bahwa bendera itu ada di hulu sungai. Jadi kita memiliki sebuah titik acuan untuk memanggil kita kembali kepada Kekristenan sejati.
Jadi itulah juga yang saya ingin lakukan malam ini. Petrus melakukan hal itu untuk orang Kristen dulu dan saya akan mencoba melakukan itu dengan kata-katanya bagi Anda sekarang, yaitu untuk menanam sebuah bendera di tepi sungai kefasikan Amerika dan memanggil Anda untuk melihat supaya Anda juga dapat meneliti dimana Anda berenang sekarang.
Petrus mengatakan di ayat-ayat 8-9 ada lima hal tentang orang-orang Kristen ini: 1) Mereka mengasihi Kristus; 2) mereka percaya Kristus; 3) mereka bersuka cita dalam Kristus; 4) dan melalui semua ini jiwa mereka diselamatkan; dan 5) mereka mengalami ini walaupun sama seperti kita mereka juga belum pernah melihat Kristus secara pribadi.
Inilah Kekristenan sejati: Allah menyelamatkan jiwa-jiwa kita dengan menempatkan kedalam hati kita suatu kasih dan keyakinan dan sukacita yang berlawanan dengan arus kefasikan dan keduniawian masyarakat. Dengan kata lain, Kekristenan itu terutama masalah hati kita (kasih, kepercayaan dan sukacita) dan bukan masalah penampilan eksternal.
Marilah kita lihat apakah kita bisa mengerti ketiga pengalaman ini dan melihat bagaimana mereka berhubungan satu sama lain dan apakah kita juga mengalami hal-hal itu atau tidak. Apakah sebenarnya yang dimaksud ketika kita mengatakan kita mengasihi Kristus dan yakin akan Kristus dan menikmati Kristus? Marilah kita melihat ketiga definisi:
1. Mengasihi Kristus. Mengasihi Kristus berarti sangat menghargai Kristus berdasarkan karakter-Nya dan kebajikan-Nya. 2. Percaya Kristus. Ini berarti yakin bahwa Kristus dapat dipercaya dalam semua janji-janji-Nya dan semua nasihat-Nya. Dengan kata lain: Kasih berarti merasa tertarik oleh Kristus berdasarkan pribadi-Nya. Iman adalah kepercayaan kepada Kristus berdasarkan perbuatan-Nya.
3. Menikmati Kristus. Nah sekarang apakah artinya sukacita? Petrus mengatakan di ayat 8, “Kita bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” Dan semakin saya mempertimbangkan firman Tuhan (seperti Filipi 1:25 dan Roma 15:13 dan 2 Korintus 1:24), semakin saya yakin kita harus melihat sukacita menjadi satu dengan kasih dan iman.
Sukacita di dalam Kristus menggambarkan perasaan baik kita dalam mengasihi-Nya dan percaya kepada-Nya. Itu seperti gema di dalam hati kita dalam menikmati Kristus sebagai sesuatu yang sangat berharga dan yang dapat dipercaya. Itu perasaan-perasaan yang mendalam sekali yang menarik Anda karena pribadi-Nya dan keyakinan akan perbuatan-Nya.
Jadi sebagian sukacita itu adalah kasih dan sebagiannya adalah iman. Karena itu untuk mengatakan, “Saya tertarik kepada kenyataan bahwa Kristus sangat berharga, tapi saya tidak punya perasaan baik dalam atraksi ini,” adalah suatu kontradiksi. Apakah mungkin ada atraksi untuk sesuatu tanpa ada perasaan baik?
Mungkin juga ada rasa takut di dalam atraksi itu (sama seperti nonton film yang menakutkan) tetapi jika tidak ada perasaan baik di dalamnya, itu tidak akan terasa seperti atraksi akan tetapi hanya sebagai penolakan.
Sama juga dengan iman, itu suatu kontradiksi untuk mengatakan, “Saya yakin sepenuhnya akan perbuatan Kristus bagi saya, namun saya tidak memiliki perasaan baik dalam keyakinan itu.” Apakah artinya keyakinan tanpa ada perasaan pengharapan dan jaminan dari Yang dipercayai?
Mungkin saja kita tahu ada kesakitan dan penderitaan di dalam perjalanan itu, namun kepercayaan atau keyakinan itu berarti ada perasaan baik yang mendalam bahwa semua itu akan berakhir dengan baik.
Jadi sukacita yang mulia ini yang diacukan Petrus di ayat 8 adalah komponen bagian dari kasih dan iman, dan bersama-sama mereka membentuk Kekristenan sejati. Ini menjelaskan dengan baik mengapa Petrus menyebut sukacita ini, “mulia dan yang tidak terkatakan.”
Apakah Anda tahu ada kualitas di dalam sukacita itu? Yang saya maksud bukan hanya intensitas, tetapi suatu karakter moral. Apakah mungkin ada sukacita yang jelek atau cantik, bejat atau mulia, kotor atau bersih? Jawabnya adalah iya: yang dinikmati memberikan karakter kepada sukacita itu.
Jika Anda suka lelucon kotor dan kata-kata kotor dan gambar cabul, maka hatimu juga kotor dan sukacitamu juga kotor. Jika Anda senang kekejaman dan kesombongan dan dendam, maka hatimu dan sukacitamu juga memiliki karakter yang sama. Atau semakin banyak Anda menikmati kesenangan harta milik, semakin hatimu dan sukacitamu mengerut sama seperti hal materi belaka.
Petrus mengatakan di ayat 8 bahwa sukacita Kristen itu mulia dan tidak terkatakan. Jadi bagaimana caranya sukacita menjadi seperti itu? Itu menjadi seperti itu karena sukacita Kristen adalah suatu sukacita yang merindukan penghargaan Yesus dan keandalan Yesus. Dan apa yang kita nikmati memberikan karakter kepada sukacita itu.
Orang Kristen ingin berada bersama Kristus dan mereka belajar untuk menjadi lebih seperti Kristus. Dan di dalam Kristus berada segala kemuliaan alam semesta dan Allah, jadi sukacita dalam Dia adalah sukacita yang mulia. Dan ini adalah suatu sukacita yang makin bertumbuh semakin besar penghargaan kita terhadap Dia dan semakin kita percaya Dia setia.
Kita mengembangkan suatu sukacita untuk apa yang kita inginkan dan yang harus diinginkan orang Kristen lebih dari pada semua yang lain adalah kemuliaan Kristus. Supaya sukacita kita akan menjadi “mulia dan yang tidak terkatakan” karena sukacita itu berdasarkan kasih dan kepercayaan kepada Kristus.
Namun bagaimana caranya kita mengasihi Dia dan percaya Dia walaupun kita tidak dapat melihat-Nya? Jawaban pertanyaan itu adalah walapun kita tidak dapat melihat-Nya muka ke muka dengan mata jasmani kita, kita dapat melihat-Nya dengan cara lain yang malah lebih berharga.
Misalnya di Roma 15:20-21, Paulus menggambarkan misi-nya kepada orang-orang yang belum terjangkau seperti ini, “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang,...tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."
Dalam pemberitaan Injil Kristus dapat dikenal dengan cara yang lebih penting daripada melihat-Nya secara fisik. Ratusan orang di dalam waktu hidup Yesus melihat-Nya secara fisik namun tidak pernah mengenal-Nya.
“Karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti,” kata Yesus di Matius 13:13. Ada cara melihat yang jauh lebih penting daripada melihat dengan mata saja.
Di 2 Korintus 4:6 Paulus menggambarkannya seperti ini, “Allah telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”
Ada cara melihat rohani di dalam hati untuk kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, dan tanpa itu tidak ada yang diselamatkan. Michael Card mengungkapkan paradoks ‘melihat namun tidak melihat’ di dalam salah satu lagunya seperti ini, “Mendengar dengan hati saya, melihat dengan jiwa saya, dibimbing dengan tangan yang tidak dapat dipegang, dan percaya dalam suatu rencana yang saya tidak mengerti, itulah artinya iman.”
Bagaimana itu akan terjadi? Bagaimana kita dapat melihat dan mengerti? Ini hanya terjadi melalui Firman Allah. Ketika injil Kristus diberitakan, kita dapat melihat Kristus lebih jelas daripada banyak orang yang melihat Kristus pada waktu dia masih hidup.
Jika Anda membaca injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan hati yang terbuka bagi Kristus, Anda dapat melihat kebenaran kemuliaan Kristus jauh lebih jelas daripada kebanyakan orang yang melihat-Nya di bumi, seperti Nikodemus, perempuan Siro-Fenisia, Kapten, janda kota Nain, Zakheus, pencuri di kayu salib dan orang banyak yang mengelilingi-Nya.
Mereka melihat sekilas singkat disini dan sebagian dari pidato-Nya di tempat lain. Namun di Injil Anda mendapatkan empat potret Kristus yang melengkapi satu sama lain yang diilhamkan Allah dan yang mencakup seluruh jajaran pengajaran-Nya dan pelayanan-Nya. Injil itu jauh lebih baik daripada berada disitu pada waktu itu.
Anda dibawa kedalam lingkaran dalam para rasul di mana Anda tak mungkin bisa pergi. Anda berjalan bersama Dia di taman Getsemane dan di persidangan dan penyaliban dan kebangkitan dan semua pertemuan sesudah kebangkitan-Nya.
Anda mendengar khotbah-khotbah lengkap dan wacana-wacana panjang, yang tidak terisolasi sebentar di lereng bukit akan tetapi dengan konteks kaya yang diilhamkan Allah yang membawa Anda lebih mendalam dari pada apa yang mungkin bagi seorang petani yang heran di Galilea waktu itu.
Anda bisa melihat seluruh jajaran karakter-Nya dan kekuatan-Nya yang tidak dapat dimengerti sepenuhnya waktu itu seperti terlihat sekarang di Injil. Anda bisa melihat kebebasan dari rasa kuatir walaupun tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya, keberanian-Nya dalam menghadapi oposisi, kebijaksanaan-Nya yang tidak dapat di jawab, penghormatan-Nya terhadap wanita dan kelembutan-Nya dengan anak-anak.
Anda bisa melihat belas kasihan-Nya terhadap orang-orang berpenyakit kusta, kelemahlembutan-Nya dalam penderitaan, kesabaran-Nya dengan Petrus, air mata-Nya atas Yerusalem, pemberkatan-Nya terhadap mereka yang mengutuk-Nya, hati-Nya bagi bangsa- bangsa, kasih-Nya bagi kemuliaan Allah, kesederhanaan-Nya dan kesetiaan-Nya, dan kuasa-Nya untuk meredakan badai dan menyembuhkan orang sakit dan untuk mereproduksikan roti dan untuk mengusir setan-setan.
Walaupun sekarang Dia tidak kelihatan, namun dalam arti lain Anda melihat-Nya jauh lebih baik daripada ribuan orang yang melihat-Nya muka ke muka. Anda dapat melihat kemuliaan Allah bersinar dalam muka Yesus setiap kali Dia dibicarakan di Injil. Dan karena sekarang Dia terlihat dengan mata hati Anda, Anda dapat mengasihi-Nya dan percaya akan Dia dan bergembira dengan sukacita yang mulia dan tak terkatakan. Inilah Kekristenan sejati!
Baru-baru ini saya melihat di computer saya pendeta Dieter Zander berbicara di konperensi mengenai bagaimana menjangkau orang-orang dalam zaman relativisme ini. Dia mengutip sebuah studi dari Barna yang menanyakan orang-orang untuk menggunakan satu kata untuk menggambarkan Yesus. Mereka menjawab, “bijaksana, menerima, penyayang, ramah dan rendah hati.”
Setelah itu dia menanyakan mereka untuk menggunakan satu kata untuk menggambarkan orang-orang Kristen, dan mereka mengatakan, “kritis, eksklusif, diri benar, sempit dan represif.” Ada perbedaan besar diantara mengenal kabar baik dan menjadi kabar baik, Zander mengatakan, “Kita adalah buktinya! Cara kita hidup adalah buktinya kita pengikut Kristus. Semuanya terhitung—sepanjang waktu.”
Pendeta terkenal D. L. Moody pernah cerita tentang seorang wanita Kristen yang selalu cerah, ceria dan optimis, walaupun dia terbatas ke kamarnya karena sakit. Dia tinggal di sebuah apartemen loteng di lantai lima bangunan tua yang bobrok. Ada teman yang mau mengunjunginya suatu hari dan dia membawa bersamanya wanita lain yang kaya sekali.
Karena tidak ada lift, kedua wanita itu mulai naik tangga panjang ke atas. Ketika mereka tiba ke lantai kedua, si wanita kaya berkomentar, “Ih tempat ini kok gelap dan kotor ya.” Temannya menjawab, “diatas lebih baik.” Ketika mereka tiba di lantai tiga, si orang kaya mengatakan, “Wah, disini malah lebih buruk.” Jawabannya lagi, “diatas lebih baik.” Kedua wanita akhirnya tiba di lantai loteng dimana mereka menemukan terbaring di tempat tidur wanita kudus itu.
Senyum di wajahnya memancarkan sukacita yang memenuhi hatinya. Dan walaupun kamarnya bersih dan ada bunga di ambang jendela, pengunjung kaya itu terheran keadaan kamarnya yang sangat sederhana. Dia berucap, "Pasti sangat sulit bagi Anda untuk berada di sini seperti ini." Tanpa ragu yang tertutup-didalam itu menanggapi, “diatas lebih baik.” Dia tidak mementingkan hal-hal fana. Dengan mata iman tertuju kepada kekekalan, dia telah menemukan rahasia kepuasan sejati.
Inilah bendera yang tertanam di tepi sungai kefasikan. Saya berdoa supaya Anda melihatnya malam ini untuk mencegah Anda tenang-tenang mengambang ke hilir sungai menuju kebinasaan. Saya berdoa supaya Allah sendiri membangunkan Anda dan membuka mata hati Anda dan menyebabkan Anda mulai gerakan berenang, bukan untuk bekerja supaya merasa berhak mendapatkan sesuatu dari Tuhan, namun berenang dengan gerakan kasih, iman dan sukacita. Inilah Kekristenan sejati.
Allah berbicara kepada kita sekarang juga dan menanyakan Anda untuk menguji hati Anda. Apakah Anda benar memiliki kasih untuk Allah dan untuk sesamamu manusia? Apakah Anda benar memiliki kepercayaan itu yang menghilangkan segala ketakutan dan memberikan kita keberanian untuk menjadi pelaku Firman Tuhan? Dan apakah Anda benar bersuka cita dalam segala hal karena Anda yakin Anda anak Allah?
Marilah kita malam ini ingat kembali bagaimana kita tiba dan bisa berada sekarang di tempat ini. Marilah kita memuji Dia yang telah mengorbankan diri-Nya bagi dosa-dosa kita dan memungkinkan Allah menyebabkan kita lahir kembali dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Marilah kita merayakan Perjamuan Kudus malam ini.