Memenangkan pasanganmu yang tidak percaya
Published by Stanley Pouw in 2010 · 13 June 2010
“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya.”
Marilah kita mulai dengan memberikan Anda konteks khotbah ini. Petrus menulis kepada orang Kristen yang dianiaya supaya mereka dikuatkan. Dia menasihati mereka bagaimana untuk hidup di dalam dunia yang bermusuhan dengan tidak membiarkan keadaan itu mempengaruhi mereka secara negatif dan untuk memusatkan pikiran kita kepada Kristus, yaitu masa depan Dia, kuasa-Nya dan sumber daya-Nya.
Petrus mulai dengan mengfokus pengharapan hidup kita kepada Kristus dengan pertama mengingat keselamatan kita yang besar seperti yang digambarkan di 1 Petrus 1:1 sampai 1 Petrus 2:11. Kedua dia bergerak dari masa lalu ke waktu sekarang dan mulai dari 1 Petrus 2:12 dia mengatakan, “Pusatkanlah kepada teladan Kristen kita dihadapan orang lain” terus sampai ke 1 Petrus 4:6.
Jadi sekarang kita berada di tengah-tengah memberi teladan Kristen untuk orang lain. Pada dasarnya jika kita ingin memberi teladan hidup yang baik, maka itu harus mulai di dalam keluarga kita sendiri. Kehidupan kita harus memperlihatkan suatu karakter yang membawa orang kepada Kristus.
Yang dikatakan Petrus adalah, Anda akan hidup di dalam dunia yang bermusuhan dan itu akan kelihatan jelas ddalam semua hubungan sosial. Ada tiga hubungan sosial utama: pemerintah, tempat kerja dan keluarga. Kita telah mendiskusikan hubungan sosial pertama dan kedua dan sekarang Petrus mengajarkan kita tentang hubungan keluarga.
Perkataan apa yang berkali-kali muncul setelah 1 Petrus 2:12? Perkataannya adalah “tunduk”, pertama kita diajarkan untuk tunduk kepada semua lembaga manusia, setelah itu kepada tuanmu dan sekarang di dalam bagian pertama bab 3 kita diajarkan supaya isteri itu tunduk kepada suaminya.
Dasarnya kesaksian kita di masyarakat dimana kita hidup adalah hidup tunduk. Inilah perkataan kunci-nya. Anda juga dapat melihat di ayat 7, “Demikian juga kamu, hai suami-suami,” dan perkataan demikian mengatakan dia harus tunduk juga. Nah ini konsep dasar dan sangat penting.
Allah ingin supaya kita tunduk kepada tatanan sosial dan pola sosial yang Tuhan sendiri telah menetapkan. Dia tidak suka kita memberontak dan menuntut hak-hak kita, Dan janganlah kita merasa lebih unggul dari pada tatanan sosial ini.
Sebagai orang Kristen kita adalah anak-anak Allah dan karena itu kita harus bertanggung jawab kepada otoritas yang lebih tinggi. Dan karena itu gampang kita bisa merasa lebih unggul dari sistim-sistim dunia dan berpendapat persyaratan-persyaratan itu tidak berlaku lagi untuk kita. Sangat mudah untuk memutuskan bahwa Anda tidak ingin mendengarkan pasangan Anda yang tidak percaya.
Namun ingatlah kewajiban utama kita sebagai orang Kristen. Satu-satunya alasan kita hidup adalah untuk pengabaran injil. Kita disini diberi tugas untuk menyatakan Kristus kepada semua orang, di masyarakat dan di tempat kerja kita dan di dalam keluarga kita. Dan supaya kita efektif Allah mengajarkan kita untuk tunduk.
Dan pertanyaannya adalah: Bagaimana isteri harus bertindak jika dia telah menikah suami yang belum percaya? Apakah yang harus diperbuat suami jika dia kawin sama orang yang tidak percaya? Apakah dia meraa lebih unggul? Apakah dia memperlakukannya dengan ketidakpedulian karena dia bukan warga negara Kerajaan?
Dan apakah seharusnya tindakan isteri? Apakah dia menolak otoritas suami yang bukan Kristen karena dia memiliki otoritas lain, yaitu Kristus? Apakah dia menuntut haknya dalam bidang jasmani dan rohani karena sekarang dia dihargai Allah? Apakah tanggungjawab yang patut untuk kedua pasangan jika kawin dengan orang yang tidak percaya?
Nah sekarang konteks ini tidak berhubungan dengan ajaran perkawinan Kristen. Kita mulai dengan caranya orang Kristen harus hidup di dalam masyarakat yang bukan Kristen dan sesudah itu bagaimana Orang Kristen harus hidup di dalam tempat kerja bukan Kristen dan sekarang bagaimana seorang Kristen harus hidup dengan pasangannya yang bukan Kristen.
Ingatlah sekarang tujuan kesaksian kita. Ini supaya orang lain bisa melihat kehidupan kita dan memuliakan Allah pada saat Dia berkunjung. Dengan kata lain, ada kemungkinana mereka selamat. Kita juga tunduk terhadap majikan kita karena itu menyenangkan Allah. Bagaimana? Supaya injil itu dinyatakan supaya orang dapat melihat itu di dalam hidup kita. Dan begitupun di dalam keluarga kita.
Sekarang kita mulai dengan isteri-isteri. Dan Petrus disini tidak berprasangka karena memberi enam ayat kepada isteri dan hanya satu ayat kepada suami. Karena jika isteri menjadi Kristen zaman itu kemunkinan ada masalah di perkawinan itu jauh lebih besar dari pada saatnya suami menjadi Kristen karena dia memang sudah dianggap berkuasa.
Tapi ketika seorang istri, yang dipandang sebagai kelas rendah, menjadi seorang Kristen secara independen dari suaminya, potensi konflik dan malu dan kesulitan jauh lebih besar.
Orang-orang Kristen kepada siapa Petrus menulis tersebar di dunia Yunani, dan di dalam kultur itu untuk merubah agama tanpa usaha suami tak terpikirkan. Mengapa? Karena dalam zaman Petrus itu mereka dianggap warga kelas dua dan pendapat mereka tidak relevan dan tidak diinginkan.
Namun jika seorang perempuan menjadi Kristen dan dia mengerti prinsip Galatia 3:28 yang mengatakan, “Dalam hal ini tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus,” dia menyadari bahwa dia telah mencapai tingkat hidup yang suaminya yang belum percaya tidak mengerti sama sekali.
Dia bebas di dalam Kristus. Dia memiliki Tuhan baru dan tuan baru. Dan gampang sekali untuk memperlakukan suaminya dengan jijik, dengan ketidakpedulian, atau bahkan dengan penolakan. Dan kalau dia tidak hati-hati hubungan mereka bisa retak.
Untuk isterinya menjadi Kristen mungkin merupakan sesuatu yang memalukan bagi suaminya karena tidak pernah ada perempuan yang melakukan hal itu sendiri. Dia tidak akan mengerti hubungan mistis dia dengan Yesus Kristus. Dan untuk melakukan hal yang berani itu menyebabkan ada kemungkinan besar dia akan menderita aniaya.
Jadi inilah masalahnya. Bagaimana isteri Kristen dapat berhubungan dengan suaminya untuk memenuhi misi dia? Dan apakah misinya? Misi kita adalah untuk memenangkan orang kepada Kristus. Jadi dia harus berlaku seperti apa untuk memenangkan suaminya yang tidak percaya kepada Yesus Kristus?
Marilah kita melihat dulu apa yang tidak diwajibkan Petrus, benar? Pertama dia tidak mengatakan kepada isteri Kristen itu untuk meninggalkan suaminya. Dia tidak mengatakan, “Nah sekarang setelah Anda menjadi Kristen, keluarlah dari perkawinan itu dan carilah seseorang yang pikirannya sama dan yang mengasihi Kristus sama seperti Anda.” Tidak, dia tidak mengatakan itu karena hal itu salah.
1 Korintus 7:13 mengatakan, “Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.” Paulus mengatakan itu dilarang Tuhan. Malah 1 Korintus 7:14 mengatakan, “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.”
Berkat-berkat Allah akan mengalir kepada suami itu karena Allah memberkati isterinya. Orang yang bukan Kristen itu tidak mengerti bahwa dia beruntung karena isterinya anak Allah dan dia dapat bagian karena isternya diberkati. Ini bukan berarti dia memperoleh keselamatan oleh karena ini, ini hanya berarti di dalam kehidupannya dari luar dia diberkati.
“Bagaimana kalau dia ingin bercerai?” Teks yang sama di 1 Korintus 7:15 mengatakan, “Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.”
Karena ayat 16 meneruskan, “Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau (tidak) akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau (tidak) akan menyelamatkan isterimu?” Dengan kata lain. pokoknya jika dia ingin berdiam, biarkanlah dia berdiam. Namun jika dia ingin keluar karena dia tidak dapat menerima kesaksian Kristen Anda, biarkanlah dia pergi.
Kedua, Petrus tidak menasihatkan dia untuk berkhotbah kepadanya. Dia tidak mengatakan untuk berdebat dengan dia. Dia tidak mengatakan untuk menempel ayat-ayat Alkitab di bagian bawah kaleng birnya. Dia tidak mengatakan untuk meletakkan traktat penginjilan di bawah bantal di tempat tidurnya. Dia tidak mengatakan untuk memanggil pastor kerumah suatu malam dia sendirian dirumah.
Ketiga, dia tidak mengatakan karena sekarang dia sama dengan suaminya dia harus menuntut haknya. Dia tidak mengatakan itu lagi. Dia sama pentingnya dengan semua orang percaya lain namun masih ada kewajiban istri yang harus dipenuhi. Didalam Kristus tidak ada perbedaan diantara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi di dalam perkawinan ada yang memimpin dan ada yang tunduk.
Sekarang marilah kita melihat apa yang dikatakan teks. Ayat 1, “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman (yaitu suami yang tidak percaya), mereka juga tanpa perkataan dapat dimenangkan oleh kelakuan isterinya.”
Perhatikanlah caranya ayat 1 mulai. Dikatakan “demikian juga”, apakah artinya ini? Jika Anda ingin membuat dampak maksimal terhadap masyarakat di mana Anda tinggal, maka jadilah teladan warga negara yang tunduk yang terbaik. Jika Anda ingin membuat dampak maksimal di dalam tempat pekerjaan maka jadilah teladan karyawan tunduk yang terbaik. Demikian juga jika Anda ingin membuat dampak maksimal terhadap suami Anda yang belum percaya, jadilah teladan isteri tunduk yang terbaik.
Sadarilah bahwa Anda harus mengambil tempat Anda sebagai bawahan terhadap kepemimpinan rohani suami Anda. Inilah rencana Allah untuk perkawinan. Wanita tidak kalah dalam hal karakter, kecerdasan, kebajikan, kerohanian atau bakat. Mereka tidak kalah dalam hal apapun. Tetapi peran kepemimpinan mereka telah diserahkan kepada suami mereka.
Perhatikanlah ini, “Tunduklah kepada suamimu.” Setiap kali ada pernyataan di Alkitab seperti itu selalu disebut suamimu sendiri. Selalu ada kata ganti kepunyaan. Tunduk kepada suamimu memperlihatkan keintiman dan ikatan perkawinan. Inilah rencana Allah.
Alasannya adalah supaya mereka tunduk, di ayat 1, “walaupun ada di antara mereka (yaitu suami-suami) yang tidak taat kepada Firman.” Mereka pada dasarnya belum lahir baru dan tidak taat kepada injil. Hal pertama adalah biarpun mereka seperti itu tetap tunduk saja, sama seperti Anda tunduk kepada lembaga manusia, sama seperti Anda tunduk di tempat pekerjaan, demi keselamatan mereka.
Dari pihak isteri lebih penting untk menunjukkan kasih Allah daripada mengritik dia karena ketidakpercayaan. Petrus tidak mengatakan bahwa mereka akan selamat tanpa firman Allah (injil), dia hanya mengatakan bahwa perdebatan tidak akan memenangkan seseorang kepada Kristus.
Pengajuan lembut seorang wanita Kristen yang indah ramah kepada suaminya yang belum selamat adalah alat penginjilan terkuat dari dia. Yang penting bukan perkataannya, yang penting adalah perilakunya. Perempuan harus tunduk kepada suaminya supaya Roh Kudus dapat memakai hal itu untuk mempengaruhi si suami.
Yang menarik adalah bahwa sikap ini juga menyumbang ke pernikahan bahagia sebagai bagian dari desain Allah. Jadi kewajiban pertama isteri adalah sikap tunduk, yang dapat digambarkan sebagai tidak mementingkan diri sendiri secara sukarela dan ketergantungan. Ada kewajiban kedua di ayat 2, yang bisa dinamakan kesetiaan. ayat 2 mengatakan, “jika mereka melihat, bagaimana murni dan penuh penghargaan sikap isteri mereka itu.”
Apakah artinya hidup murni dan saleh? Artinya pada dasarnya adalah perilaku yang sempurna, setia kepada Allahnya dan setia kepada suaminya. Murni berarti Anda tidak main gila dengan orang lain. Dan penuh penghargaan, ini berarti Anda menghargai suamimu.
Prinsip ketiga dibicarakan mulai ayat 3 sampai ayat 6 dan inilah kesederhanaan. Di ayat 3 dikatakan, “Perhiasanmu janganlah hanya dari luar, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah.” Dia mengatakan, “Sederhana saja, karena biasanya perempuan mementingkan apa yang kelihatan dari luar.”
Dia mengatakan, ”Janganlah mementingkan hanya perhiasan luar.” “Apakah dia anti perhiasan emas? Tidak. Dia tidak melarang itu, karena banyak orang perempuan cantik, seperti pengantin dalam Kidung Agung itu berhiaskan berlian dan memang itu sangat indah.
Petrus mengatakan jangan mementingkan yang di luar. Anda bisa melihat berapa banyak orang mengeluarkan uang untuk operasi kosmetik dan diet. Ketika orang mulai berkencan mereka menekankan kesan pertama dan apa yang digambarkan dan banyak eksternal lainnya.
Orang-orang sekarang masih mengeluarkan banyak uang untuk pakaian mereka. Dan karena di zaman itu seluruh badan di tutupi, yang terlihat hanya muka dan kepala mereka dan disitulah kekayaan dan kesombongan mereka diwuyudkan.
Namun bukan itu kecantikan benar. Para wanita, kecantikan luar tidak akan mempengaruhi hati suami Anda jika dia tidak yakin Anda mengasihinya. Petrus tidak menyalahkan semua perhiasan luar. Akan tetapi dia mengatakan di ayat 4, “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi.” Disitulah terdapat kecantikan sejati.
Omong-omong, perempuan yang paling cantik dari dalam biasanya juga sangat cantik dari luar, benar? Apakah Anda pernah perhatikan bahwa riasan wajah tidak dapat merubahkan muka yang cemberut? Dan apakah Anda menyadari bahwa riasan tidak bisa meningkatkan kecenderungan yang indah.
Coba lihat lagi ayat 4, “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram.” Lemah lembut berarti tenang, penuh damai dan terkontrol. Kata roh berarti temperamen atau perilaku. Wanita tercantik adalah wanita yang lemah lembut, tenang, penuh damai dan yang berprilaku tenang.
Itulah kebajikan batin yang harus dikejar wanita dan yang akan memenangkan hati suaminya. Bukan itu saja, perhatikan juga bahwa itu sangat berharga dimata siapa? Di mata Allah, ini sangat berharga.
Tuhan, kami bersyukur atas saran yang lurus dan benar. Bapak, berkatilah isteri-isteri yang masih memiliki suami yang belum selamat, jadikanlah mereka menjadi apa yang Tuhan inginkan. Berkatilah suami-suami yang isterinya belum percaya, dan jadikanlah suami itu apa yang Tuhan inginkan supaya mereka dapat memenangkan pasangan mereka, dan supaya demi Yesus doa-doa keselamatan mereka tidak terhalang, Amin.