Inginkan air susu yang murni dari Firman
Published by Stanley Pouw in 2010 · 7 March 2010
“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, iri hati dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman ( bukan ‘dan yang rohani’), supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap anugerah (bukan kebaikan) Tuhan.”
Saya mendengar banyak kata-kata nubuatan dan nasihat bagi kita sebagai gereja di dalam ayat-ayat ini dan saya sangat gembira memulai bab kedua ini. Marilah kita langsung melihat ayat kedua dan setelah itu kita kembali melihat seluruh paragraf.
Suatu ancaman besar bagi keselamatan dan pertumbuhan kita menuju kepada keselamatan (ayat 2) adalah sesuatu yang saya sebut sebagai stagnasi rohani, yaitu suatu kepercayaan atau perasaan bahwa Anda terjebak dalam keadaan Anda. Mungkin ada diantara Anda yang memikir: Hanya inilah yang akan saya alami dari Tuhan; tingkat intensitas rohani yang sekarang saya miliki adalah semua yang pernah bisa saya miliki.
Barangkali Anda bertanya-tanya, “orang lain mungkin memiliki keinginan besar untuk mengikuti Allah dan mungkin merasa pengalaman mendalam kesenangan pribadi dalam Allah, namun saya tidak mungkin mengalami itu karena saya tidak seperti itu. Itu bukan saya.”
Stagnasi rohani ini adalah suatu perasaan dimana pengaruh genetik dan pengaruh keluarga dan pengaruh pengalaman masa lalu dan keadaan sekarang terlalu kuat untuk mengizinkan saya berubah dan menjadi lebih semangat untuk Tuhan.
Stagnasi rohani di dalam gereja itu tragis. Ini menyebabkan orang-orang terjebak. Ini menghilangkan pengharapan dan impian perubahan dan pertumbuhan. Ini menghancurkan kesenangan hidup, yaitu pertumbuhan.
Ini sama seperti mengatakan kepada seorang gadis remaja kecil dan kikuk yang merasa seperti tubuhnya semua diluar proporsi: itulah keadaanmu sekarang dan selalu, padahal faktanya adalah bahwa dia akan bertumbuh dan berubah banyak. Sangat tragis jika ada orang yang meyakinkannya ada stagnasi jasmani dan dia tidak akan bertumbuh lagi pada saat dia berumur 13.
Coba bayangkan jika hal yang sama terjadi dengan pertumbuhan rohani kita. Akan tetapi stagnasi rohani jauh lebih buruk. Karena yang terpengaruh adalah hal-hal yang lebih penting, dan karena dalam pertumbuhan rohani kita tidak akan mencapai kedewasaan seperti dalam pertumbuhan jasmani.
Jadi ribuan orang tahun demi tahun hidup tanpa merasakan keinginan besar bagi Tuhan atau semangat bagi nama-Nya atau sukacita dalam kehadiran-Nya atau pengharapan dalam janji-janji-Nya atau kesetiaan dalam persekutuan dengan Dia dan mereka merasa, ah beginilah cara saya. Dan mereka menetap seperti itu sama seperti seorang remaja yang berhenti bertumbuh dan berjerawatan sampai umurnya 80.
Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan kita supaya janganlah kita menetap sebagai bayi rohani. Petrus mengatakan di ayat 2, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman, supaya olehnya kamu bertumbuh.” Ini perintah Allah untuk ingin bertumbuh.
Ini berarti jika Anda merasa tidak ada kemajuan karena Anda tidak memiliki keinginan rohani untuk bertumbuh seperti seharusnya, ayat-ayat ini mengatakan, janganlah menetap dalam keadaan itu. Firman mengatakan, “Dapatlah keinginan yang Anda tidak miliki.” Jika Anda tidak ingin susu murni dari Firman, mulailah menginginkannya!
Nah, bukankah itu menakjubkan? Perintah untuk menginginkan! Sebuah perintah untuk merasa kerinduan kita tidak merasa. Sebuah perintah untuk merasa keinginan kita tidak punya. Apakah ada sesuatu yang lebih bertentangan dengan stagnasi rohani dari itu?
Stagnasi mengatakan: Saya tidak bisa menciptakan keinginan begitu saja. Jika perasaan itu tidak ada, yah apa boleh buat. Jika saya tidak merasa seperti pemazmur pada saat mereka mengatakan di Mazmur 42:2, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Jika saya tidak merasa kerinduan seperti itu kepada Allah, ya apa boleh buat. Saya tidak seperti pemazmur.
Namun Allah mengatakan di ayat 2, “selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman!” Apakah yang dapat saya lakukan untuk menaati perintah seperti itu? Bagaimana saya dapat menghasilkan keinginan begitu saja?Masalah saya adalah saya tidak memiliki kekuatan kerinduan yang saya inginkan. Dan Engkau mengatakan inginkanlah. Sama saja dengan mengatakan kepada seorang yang lumpuh untuk berjalan.
Hmmmm? Dapatkah Anda membayangkan hal seperti itu, memerintahkan orang lumpuh untuk berjalan? Siapakah yang dapat melakukan hal seperti itu? Atau bagaimana memerintahkan orang lumpuh untuk terbang? Apakah Allah mungkin memerintahkan hal itu?
Namun dengarkanlah Firman Allah di Titus 2:14, “(Yesus) yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.”
Apakah saya juga sanggup berbuat baik dengan menjadi lebih semangat seperti yang dikatakan di Roma 12:12, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”, atau lebih gembira dalam Tuhan seperti di Mazmur 37:4, “bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu?”
Dapatkah saya pernah hidup lebih berrohani seperti yang dikatakan di Roma 8:5, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh?”
Dapatkah saya pernah merasa puas hanya untuk bersama-sama dengan Kristus menurut yang dikatakan di Yohanes 6:35, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi?”
Dapatkah saya juga hidup lebih berani seperti yang dikatakan di 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Dapatkah saya juga hidup lebih penuh pengharapan seperti dikatakan di dalam 1 Petrus 1:13, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus?”
Saya sedang mendengarkan ceramah oleh Corrie Ten Boom dan saya mendengar dia membacakan sedikit puisi dari John Bunyan. Itu salah satu pernyataan terbaik yang pernah saya dengar tentang perbedaan antara hukum dan Injil. Anda akan melihat bagaimana kaitannya.
“Jalankan, John, jalankan, perintah-perintah hukum. Tapi tidak memberi kita kaki atau tangan (P.L.), jauh lebih baik dibawa berita Injil: Ini tawaran kita terbang dan memberi kita sayap.” Dengan kata lain Allah di dalam perjanjian lama memberikan kita perintah-perintah, tetapi Dia tidak memberikan pemberdayaan ilahi yang mengatasi kematian dan kebejatan dan pemberontakan dari hati.
Namun di dalam perjanjian baru, yang dibentuk Allah di kayu salib Kristus, Allah memberikan perintah lebih keras lagi, tetapi Dia juga memberikan kita kekuatan yang kita butuhkan untuk memenuhi mereka. Ayat Roma 8:4 mengatakan, “supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”
Kristus memberi kita kekuatan melalui iman. Lihatlah 1 Tesalonika 1:3, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.”
Dan lihatlah 2 Tesalonika 1:11, “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu.”
Kita wajib untuk menjalankan, walaupun kaki kami dibekukan di dalam es dosa. Kita tidak bisa lari dalam diri kita sendiri, sehingga perintah-perintah hukum Taurat mengutuk. Injil itu sama dengan memberikan kita perintah. Dan terbang lebih sulit daripada berlari. Tapi begitu kita memilikinya, kita bisa terbang.
Orang stagnan mengatakan, “Saya tidak bisa terbang, Saya malah tidak bisa lari. Kakiku beku dalam genetik saya dan keluarga disfungsional asal. Dan selain itu aku tidak punya sayap. Aku tidak bisa terbang. Begitulah saya.” Namun melawan stagnasi injil mengatakan, “Terbanglah! Anda tidak memiliki keinginan untuk susu firman? Yah, milikilah mereka.”
Yang dimaksud disini adalah sama pentingnya kita memiliki keinginan untuk Firman yang seharusnya kita miliki dan beriman di dalam Tuhan bahwa Dia akan memberikan apa yang Dia perintahkan. Jika Allah mengatakan kita harus menginginkan pada waktu kita tidak menginginkan, kita harus percaya Dia bahwa Dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu.
Dia harus memiliki kuasa yang kita tidak miliki. Pasti ada jalan. Itulah sebaliknya dari stagnasi rohani. Allah memerintahkannya, jadi pasti ada jalan. Aku tidak akan puas dengan sesuatu yang kurang dari apa yang diperintahkan Allah, walaupun itu adalah perintah untuk terbang.
Salah satu pernyataan pertumbuhan tertinggi dibuat oleh Santa Agustinus. Dan ini alkitabiah sekali. Di dalam ‘Confessions’ (X,40) dia mengatakan, “Kasih yang selalu berkobar dan tak pernah padam! O Allahku penuh anugerah, berikanlah kami semangat! Engkau memerintahkan kami bertumbuh. Berilah kami apapun yang Engkau perintahkan dan perintahkanlah apa yang Kaukehendaki.”
Inilah caranya Anda seharusnya berdoa dan percaya ketika membaca 1 Petrus 2:2, “selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman.” Inginkan hal itu! Tidak ada keinginan? Dapatkan keinginan itu! Mulai menginginkan itu. Jangan bilang, beginilah saya. Apa boleh buat.” Jangan puas dengan stagnasi rohani. Ini bukan kehendak Allah bagi Anda.
Perhatikanlah ayat 1 mulai dengan perkataan ‘karena itu’. Jadi yang mau dibicarakan Petrus itu berdasarkan apa yang dia bicarakan sebelumnya. Apa yang dibicarakan sebelumnya? Apa yang dibahas sebelumnya adalah pernyataan hebat (ayat 23) bahwa kita dilahirkan kembali oleh Firman Allah.
Intinya adalah bahwa Firman itu tidak fana dan firman itu hidup dan aktif dan bukan seperti rumput dan bunga yang akan layu dan mati melainkan firman itu kekal. Jadi jika Anda dilahirkan kembali oleh karena Firman itu, Anda juga akan hidup kekal. Anda terjamin selamanya dalam keluarga Allah.
Karena Anda memiliki hidup baru oleh perbuatan Allah dan karena Anda memiliki keyakinan tentang masa depan (2:1), “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman.”
Mungkin versi Alkitab Anda tidak mengatakan “susu Firman “ di ayat 2. Mungkin hanya dikatakan “ingin akan air susu yang murni.” Apakah susu murni itu hanya berarti Firman Allah? Atau mungkinkah ada yang lebih khusus lagi dalam Firman itu?
Saya percaya ada yang lebih khusus. Ayat 2-3 mengatakan, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika (karena) kamu benar-benar telah mengecap anugerah Tuhan.”
Apakah Anda bisa melihat hubungan diantara “keinginan besar untuk susu murni Firman” di ayat 2 dan “karena kamu telah mengecap anugerah Tuhan” di ayat 3? Coba tempatkanlah mereka bersama-sama: "Keinginan untuk susu rohani, karena kamu telah mengecap anugerah Tuhan.”
Dimana pembaca dapat mengecap anugerah Tuhan? Jawabnya: di dalam Injil, Firman Allah (ayat 25). Mereka lahir kembali oleh karena kemurahan hati melalui Firman Allah. Jadi susu rohani itu adalah anugerah Tuhan yang dialami melalui Firman Allah.
Atau bisa juga dikatakan, susu rohani adalah Firman Allah yang menyatakan atau mentransmisikan kasih karunia Tuhan. Anda lahir kembali oleh karena Firman itu, yaitu oleh anugerah Allah yang kuat di dalam Firman itu, dan sekarang terus mengingini Firman itu dan didalam pengalaman sehari-hari mengecap anugerah Allah.
Firman Allah cukup kuat untuk menciptakan orang Kristen baru (dilahirkan kembali), oleh karena itu Firman Allah juga cukup kuat untuk membangunkan keinginan dalam jiwa Kristen lemah. Janganlah kita menjadi orang yang stagnan rohani. Kuasa yang bekerja di dalam Anda untuk menghidupkan Anda kepada hidup rohani, sama seperti kuasa yang membangkitkan orang mati.
Dengarkanlah Efesus 1:19-20, “dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.”
Jadi Allah bisa menciptakan keinginan sama seperti Dia menciptakan Anda. Percayalah hal itu. Saya mengutip bebas puisi Bunyan: Larilah John, larilah, hukum Taurat memerintah namun tidak memberikan kita kaki atau tangan. Disisi lain injil memberikan kita kabar yang jauh lebih baik: Kita diminta untuk menginginkan namun keinginan itu juga diberikan.
Namun Firman itu juga bisa menghancurkan. 1 Petrus 2:1-2 menggambarkan apa yang perlu di buangkan (dihancurkan) supaya kita mendapat keinginan itu. “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, iri hati dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dari Firman.” Allah memberikan kita keinginan untuk susu anugerah Allah jika kita membuang keinginan hal-hal lain.
Kejahatan: keinginan untuk menyakiti seseorang dengan kata-kata atau perbuatan. Penipuan: keinginan untuk mendapat keuntungan atau melestarikan posisi dengan menipu orang lain. Kemunafikan: keinginan supaya orang tidak tahu sifat Anda sebenarnya. Iri hati: keinginan untuk hak istimewa atau keuntungan orang lain bersama kebencian karena Anda tidak memilikinya.
Fitnah: pernyataan jahat dan palsu yang mencemarkan nama baik seseorang ditambah dengan keinginan untuk membalas dendam dan meninggikan diri. Ini seringkali terdorong keinginan untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan kita sendiri. Semakin buruk kita memfitnah orang lain, semakin sedikit kegelapan kita sendiri kelihatan.
Kejahatan, penipuan, kemunafikan, iri hati dan fitnah semua harus dibuang dan dihancurkan. Semua hal seperti itu melawan kasih dan menghalang kita menaati kebenaran injil.
Pesan Petrus adalah: jangan berpikir bahwa mereka dapat tumbuh subur di hati yang sama. Keinginan untuk mengecap dan menikmati anugerah Allah tidak mungkin berkembang bersama dengan penipuan dan kemunafikan. Jadi berjuanglah melawan stagnasi rohani dari dua pihak: berjuang untuk menghancurkan keinginan tipu daya dan kemunafikan, dan berjuang untuk merasakan kebaikan Tuhan dalam Firman-Nya.
Dan hasilnya adalah (ayat 2b)”kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” Secara harfiah, “Anda akan bertumbuh dalam keselmatan.” Keselamatan diperoleh dengan pertumbuhan. Dan memang Allah sendiri yang memberikan pertumbuhan itu.
1 Petrus 1:5 mengatakan, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Korintus 3:6 mengatakan, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Jadi pertumbuhan itu perlu!
Janganlah jatuh dalam stagnasi rohani yang mengatakan, “Saya tidak bisa bertumbuh; saya tidak bisa berubah; dan saya tidak perlu berubah.” Buanglah ide itu dan carilah Allah dengan segenap hatimu untuk pertolongan mengingini Firman-Nya dan marilah bertumbuh bersama kepada keselamatan.