Hawa nafsu melawan Kekudusan

PERSEKUTUAN INDONESIA RIVERSIDE
Go to content

Hawa nafsu melawan Kekudusan

Persekutuan Indonesia Riverside
Published by Stanley Pouw in 2010 · 14 February 2010

“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 14 Hiduplah sebagai anak- anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Selama duabelas ayat Petrus tidak memberikan kita perintah-perintah dan tidak ada peringatan dan tidak ada nasihat. Dia hanya bersukacita dan memberkati Allah yang memilih dan melahirkan kembali dan memurnikan dan melindungi. Setelah itu di ayat 13 kita melihat perintah pertama dalam kehidupan Kristen, “letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia Tuhan.” Siapkanlah akal budimu dan waspadalah untuk berperang dengan pengharapan. Jadi pengharapan adalah hal pertama yang perlu kita lakukan.

Mari saya berikan terjemahan harfiah dari ayat ini supaya Anda dapat melihat hubungan kata-kata ini lebih jelas. Petrus mengatakan, “Sebab itu ikatlah jubah akal budimu”, ini suatu gambaran seseorang yang memakai jubah yang diikat ikat pinggangnya supaya dia dapat berlari dan bergerak dengan leluasa dan cepat tanpa takut tersandung pakaiannya.

Dan bagian Anda yang perlu dibebaskan dengan cara itu adalah jubah akal budi kita. Janganlah memikirkan hal- hal duniawi, jangan memikirkan cari uang atau membeil rumah baru atau mobil baru.

Setelah itu dia meneruskan dengan “waspadalah”, suatu gambaran dimana kita harus memperhatikan hal-hal rohani. Ini menyiratkan kewaspadaan, dan mengevaluasi hal-hal dengan baik, karena pandangan Anda terang dan pikiran Anda tidak mati rasa dengan pengaruh duniawi yang memabukkan.

Setelah itu datanglah kata kerja utama, dan untuk pertama kalinya dalam surat ini sebuah keharusan. Perintah ini mengatakan, “letakkanlah pengharapanmu seluruhnya.” atau Tujukan pengharapanmu seluruhnya.” Jadi perintah pertama dalam surat ini adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan akal budi dan hati Anda. Ini perintah untuk mengharap. Mengharap bukan saja tindakan jasmani. Ini adalah pengalaman jiwa. Dan Petrus memerintahkan kita untuk mengalami pengharapan.

Dan setelah itu kita melihat perintah kedua: Kuduslah kamu (ayat 15,16). Sekarang kita diberi dua perintah: Berharaplah atas anugerah Allah dan Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Anda bisa melihat bahwa kedua perintah ini memerlukan orientasi hidup sepenuhnya kepada Allah. Jadilah orang yang dipenuhi pengharapan, dan semoga pengharapan yang memenuhi Anda adalah pengharapan kepada Allah. Jadikanlah kekudusan dirimu sama seperti kekudusan Allah.

Jadi pada waktu Anda mengharap, Anda memusatkan diri kepada Allah, dan pada waktu Anda kudus, Anda juga memusatkan diri kepada Allah. Sumber pengharapan Anda adalah anugerah Allah dan kekudusan Allah adalah standar kekudusan Anda.

Kadang-kadang ketika kita merenungkan berbagai realitas Alkitab seperti kekudusan dan pengharapan, kita bisa kehilangan hutan karena memusatkan diri kepada pohon. Hutan disini adalah bahwa kehidupan Kristen adalah suatu kehidupan yang diserap Allah, setiap waktu setiap hari, Allah adalah motivasi kita, Allah sebagai panduan, Allah sebagai standar moral, Tuhan sebagai penghiburan, Tuhan sebagai kekuatan, Allah sebagai kebenaran dan Allah sebagai sukacita.

Yang keluar dari 1 Petrus dan seluruh Perjanjian Baru adalah bahwa hidup kekristenan adalah hidup yang dijalankan dalam Tuhan, yang selalu sadar akan Tuhan, yang selalu disampaikan kepada Tuhan, selalu percaya Tuhan, selalu dibimbing oleh Tuhan dan selalu berharap pada Tuhan.

Yang sekarang mengherankan saya berkali-kali dan yang memenuhi hidup dan pelayanan saya adalah pada saat saya melihat kehidupan budaya Amerika kontemporer, kenyataan yang paling menakjubkan dan menakutkan adalah pandangan orang yang mengabaikan Allah.

Dan pada saat saya mempelajari Perjanjian Baru, hal yang paling menakjubkan dan paling menakutkan adalah bahwa pandangan itu percis sebaliknya, dimana Allah adalah segalanya. 1 Korintus 3:7, “Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.”

Kadang-kadang dalam musim kelemahan saya melihat dalam hidup sekarang orang-orang begitu meremehkan Allah sehingga saya seolah-olah mati rasa dan tidak sanggup merasakan besarnya kejahatan dan bahaya yang menyelubungi saya. Namun sering Allah berbicara kepadaku dengan tegas seperti yang baru-baru Dia lakukan. Saya sedang membaca di tempat tidur tentang nabi Hosea di 8:14, “Israel telah melupakan Pembuatnya dan telah mendirikan istana-istana.”

Ada kalanya saya membaca terus saja, namun pada hari itu saya berhenti. Allah berbicara kuat kepada saya saat itu. Dan saya menutup Alkitab dan menutup mata saya dan saya merasa lagi panggilan hidupku, “beritakanlah kepada orang-orang Kristen untuk mengingat Pencipta mereka dan memperingati mereka tentang istana-istana mereka. Berkhotbahlah tentang itu hari Minggu, ajarlah mereka hari Jumaat, dan berikanlah mereka teladan baik dihadapan keluarga, Core group dan para Diaken.

Hal utama yang kita harus pikirkan dan rasakan dan berbuat di dalam dunia ini adalah Allah. Jika kita mementingkan sesuatu lebih dari pada Tuhan itu menyembah berhala. Dan disitulah hati saya ketika saya baca ayat 16,“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus,” dan ayat 15, “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,

Allah adalah standar Kekudusan. Apakah artinya? Ide akar kekudusan terdapat di Perjanjian Lama, dan ini berarti terpisah dari yang cacat dan jahat dan terpisah untuk Allah. Misalnya di Keluaran 31:15, “tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi Tuhan.”

Nabi-nabi kudus bagi Allah, mereka dipisahkan dari kegiatan biasa dan didedikasikan dengan cara kusus bagi Allah, 2 Tawarikh 23:6 mengatakan, “Siapapun tidak boleh memasuki rumah Tuhan selain dari pada para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas. Mereka boleh masuk, karena mereka kudus.”

Dan ketika definisi kekudusan diapplikasikan kepada Allah sendiri, ada sesuatu yang menarik terjadi. Allah kudus karena Dia terpisah dari semua kejahatan dan cacat dan yang tidak murni. Ini setengahnya dari definisi ini. Dia tanpa kejahatan atau kekurangan.

Namun bagian lainnya dari definisi adalah bahwa kekudusan Allah berarti Dia terpisah bagi dirinya sendiri. Sekarang hati-hati supaya janganlah kita menghilangkan perbedaan-perbedaan diantara kekudusan Allah, kemuliaan Allah dan kebenaran Allah.

Marilah saya memberikan Anda suatu gambaran sederhana tentang hubungan ketiga ini yang dapat diuji Anda pada waktu membaca Firman Tuhan. Realitas paling dasar adalah kekudusan Allah. Ini mengacu pada kenyataan bahwa Allah adalah benar-benar unik dan di dalam kelasnya tersendiri, itulah artinya Dia terpisah dari segalanya, tidak ada sesuatu yang sebanding dengan Dia.

Tidak ada Pencipta lain, tidak ada Penopang lain, tidak ada Yang menentukan standar kebaikan dan kejahatan. 1 Samuel 2:2 mengatakan, “Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.”

Dia terpisah dalam sebuah kelas untuk diri-Nya sendiri, tiada bandingnya, tak tertandingi, benar-benar tidak berasal dari yang lain, mutlak dalam keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal atau akhir atau perbaikan. Dalam satu kata kekudusan-Nya paling luar biasa dari nilai tak terbatas di antara semua yang ada.

Kemuliaan Allah adalah sinar atau ekspresi dari kesempurnaan dan nilai itu. Misalnya memakai matahari sebagai contoh, cahaya matahari itu adalah kemuliaannya dan api matahari itu adalah kekudusannya. Yesaya 6:3 mengatakan, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan- Nya!"

Dan kebenaran Allah adalah kesetiaan-Nya atau komitmen-Nya untuk selalu bertindak sesuai dengan keindahan kemuliaan-Nya dan nilai kekudusan-Nya. Kebenaran-Nya adalah kesetiaan-Nya untuk menegakkan dan memperbesar kemuliaan dan kekudusan diri-Nya. Jika Allah pernah bertindak seolah- olah kemuliaan-Nya itu tidak penting di semesta alam, Dia tidak benar dan tindakan-Nya tidak benar.

Jadi bagaimana kekudusan Allah mempengaruhi hidup kita? Perjanjian Baru mengajarkan orang-orang yang percaya Yesus untuk membangun hidup mereka diatas kebenaran dan kemuliaan Allah. Namun dalam konteks ini Petrus memusatkan pikiran kita kepada kekudusan Allah. Bagaimana kita harus hidup seperti itu?

Petrus mengutip Allah di dalam ayat 16, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Apakah ini berarti kita harus unik total di alam semesta sama seperti Allah? Tentu saja tidak. Jadi seharusnya seperti apa? Kunci terdapat dalam membandingkan ayat 14 sama ayat 15. Ayat 14 memberikan kita kebalikannya menjadi kudus supaya kita lihat kontras perintah menjadi kudus dari ayat 15.

Ayat 14,15, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.” Jadi bagaimana caranya Allah menyebabkan kekudusan itu keluar dalam hidup orang-orang yang percaya?

1. Kita melihat hal-hal dengan pengertian baru. Setelah kita dipanggil dan di jadikan anak-anak Allah , kita tidak lagi melihat hal-hal dengan kebodohan seperti dulu. Kita melihat berbeda. Ayat 14, “jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.”

Sekarang setelah kita dipanggil, dan lahir dari Tuhan dan menjadi anak Allah, kita tidak lagi dibutakan yang dinamakan Paulus “hawa nafsu yang menipu”. Hal-hal itu tidak mampu lagi menipu kita. Kita sudah mengerti dan kita tidak bodoh seperti anak kecil yang lebih suka satu nickel daripada satu dime karena itu lebih besar.

Seberapa sering kita menginginkan lebih banyak harta duniawi ini karena untuk saat itu mereka tampak lebih berharga? Hanya pada saat kita mengerti bahwa harta Allah bukan saja beberapa kali lebih berharga, akan tetapi jutaan kali lebih berharga, kita dapat melepaskan keinginan yang menyesatkan itu.

Sekarang kita lebih tahu. Apa yang kita lebih tahu? Terutama Allah. Kita lebih tahu tentang kekudusan Allah. Kita tahu bahwa realitas manusia jauh lebih rendah nilainya dibanding Allah. Dan kita belajar semakin banyak tentang nafsu kita dan kekudusan Allah.

1 Tesalonika 4:3-5, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.”

Dulu kita buta akan nilai Allah. Kita berpaling dari mata air kehidupan dan mencoba untuk menggali waduk untuk diri kita sendiri yang bocor yang tidak dapat menahan air. (Yeremiah 2:13). Sekarang, oleh karena Roh Kudus, semua kebodohan dan ketidaktahuan itu hilang, dan kita mulai mengerti keadaan sebenarnya. Dan sekarang kita sadar bahwa kekudusan Allah adalah nilai terbesar di alam semesta.

2 Kita menghilangkan keinginan lama dan mulai mengalami keinginan baru. Menggantikan ketidaktahuan yang dulu dengan kebenaran Allah menyebabkan kita meninggalkan keinginan lama dan mencari keinginan baru. Ayat 14, “jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.”

Ketika kita tidak mengenal Allah, kita memiliki keinginan yang menipu diri. Namun sekarang Petrus memanggilnya keinginan-keinginan yang dulu menguasai Anda. Mereka memudar ke masa lalu. Walaupun kita harus melawan keinginan itu sekuat mungkin dengan kebenaran, mereka tidak lagi menguasai kehidupan kita lagi, Mereka sudah lalu, dan itu tidak lagi menentukan siapakah kita sekarang.

Dan disinilah kita hidup sehari-hari berperang terus menerus melawan keinginan lama itu yang dulu mengontrol kehidupan kita. Disinilah kita memerlukan kuasa pengharapan yang sepenuhnya bersandar kepada anugerah Allah dalam pertempuran mengatasi pencobaan masa lalu.

Dan disinilah kita memerlukan kewaspadaan, yaitu suatu gambaran dimana kita tidak mabuk mengenai soal-soal rohani. Ini menyiratkan kewaspadaan, dan mengevaluasi hal-hal dengan baik, karena pandangan Anda terang dan pikiran Anda tidak mati rasa dengan pengaruh memabukkan dan dengan pertolongan Tuhan Anda dapat mengatasi semuanya ini.

Marilah saya memberikan Anda beberapa perangkap yang Anda akan nemui dan perlindungan Tuhan yang disediakan bagimu dalam perjalanan Anda.

Perangkap: Jatuh cinta dengan dunia ini.
Perlindungan: Ingatlah pengaruh yang mematikan dari cinta-dunia dan merenungkanlah penghiburan yang tidak ada habisnya dari mata air persekutuan dan dukungan dan keindahan Allah.

Perangkap: Mengabaikan dosa dan tidak peduli menyinggung kekudusan Allah.
Perlindungan: Merenungkan kebenaran Firman Tuhan bahwa segala perbuatan kita bukan saja terhadap manusia akan tetapi juga terhadap Tuhan, dan Allah benci dosa dan kekudusan Allah adalah sikap karakter-Nya yang paling penting.

Perangkap: Rasa kekebalan dari pertanggungjawaban dan otoritas.
Perlindungan: Serahkan diri Anda kepada beberapa penasihat yang berpikiran Alkitabiah, dan bijaksana secara rohani yang diberi hak untuk minta pertanggunganjawaban Anda.

Perangkap: Mengalah kepada keinginan untuk mendengar keinginan kita saja sambil cinta kebenaran itu makin menguap.
Perlindungan: Mengembangkanlah cinta kebenaran, bahkan dalam rincian terkecil, dan jangan mendengar keinginan orang yang menginginkan kepuasan dari moralitas duniawi saja.

Perangkap: Perhatian kepada Firman Tuhan makin mengecil.
Perlindungan: Pelajarilah dan renungkanlah dan menghafallah Firman Kudus tanpa mengenal lelah dan bertindaklah sesuai dengan semua itu.

Perangkap: Ketidakpedulian yang makin bertumbuh terhadap kebaikan rohani orang Kristen lain.
Perlindungan: Berdoalah sekeras mungkin dan bangkitkanlah hati Anda untuk mengasihi semua orang.

Perangkap: Ketidakpedulian untuk misteri Alkitabiah perkawinan.
Perlindungan: Ingatkan diri Anda berulang-ulang bahwa perkawinan Anda adalah suatu video hidup yang berjalan terus dari hubungan Kristus dengan gereja-Nya.

Perangkap: Kehidupan Kristen seolah-olah terdiri dari bagian-bagian yang terpisah.
Perlindungan: Pandanglah segalanya, dan memang semuanya, seperti suatu permadani yang dijalin bersama yang berhubungan dengan nilai kemuliaan Allah.

Perangkap: Merasa di atas perlunya penderitaan dan penyangkalan diri.
Perlindungan: Jangan sekali-kali melupakan janji KPR 14:22, “untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Dan tidak pernah lupa apa yang dikatakan dalam Lukas 9:58, “tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." dan perkembangkanlah teologia Alkitabiah mengenai kesia-siaan dan penderitaan khususnya dari Roma 8:17-30.

Perangkap: Menyerah kepada mengasihani diri sendiri di bawah tekanan dan kesepian menjadi orang Kristen di dalam dunia yang fasik.
Perlindungan: Merangkullah intinya ajaran Markus 10:29-30, “sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

Jadi saya menasihati kamu bersama-sama dengan rasul Petrus di 1 Petrus :14-15, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”



JOIN OUR MAILING LIST:

© 2017 Ferdy Gunawan
ADDRESS:

2401 Alcott St.
Denver, CO 80211
WEEKLY PROGRAMS

Service 5:00 - 6:30 PM
Children 5:30 - 6:30 PM
Fellowship 6:30 - 8:00 PM
Bible Study (Fridays) 7:00 PM
Phone (720) 338-2434
Email Address: Click here
Back to content