RECEIVING GOD’S GRACE

PERSEKUTUAN INDONESIA RIVERSIDE
Go to content

RECEIVING GOD’S GRACE

Persekutuan Indonesia Riverside
Published by Olwin Gosal in 2026 · 1 February 2026
RECEIVING GOD’S GRACE


Shalom! Saudaraku, minggu yang lalu kita sudah merenungkan mengenai iman dan ketaatan Nuh. Ketika mendengar tentang Nuh, kita mungkin berpikir bahwa dia orang yang sangat sempurna? Mungkinkah saya bisa hidup seperti Nuh? Dan kita mulai bertanya bagaimana Nuh bisa sedemikian beriman dan taat kepada Allah? Apakah dia manusia setengah “dewa”? Apakah dia bukan manusia yang tidak punya keinginan daging seperti kita? Itulah yang kita mau renungkan hari ini! Apa rahasia atau dasar utama sehingga Nuh beriman dan taat?

Saudaraku, kita akan pelajari bersama Kejadian 6:1-8 saya akan baca pelahan-lahan setiap ayat dan saya akan berikan penjelasan singkat.

Ayat 1-2, “Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, 2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” Saudaraku yang dimaksud anak-anak Allah dalam ayat ini yaitu keturunan Set, mereka adalah keturunan yang memanggil nama Tuhan, mencari Tuhan dan hidup dalam kebenaran, sedangkan anak-anak perempuan adalah keturunan Kain yang hidup jauh dari Tuhan, tidak mengenal Tuhan dan hidup dalam kejahatan. Dikatakan “…lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” Hubungan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah inilah yang membuat bumi semakin rusak, kejahatan semakin meluas dan sangat mendukakan hati Tuhan. Menunjukkan bahwa keturunan orang benar tidak mempertahankan cara hidup yang benar dihadapan Allah, melainkan mereka kompromi dan mengikuti cara hidup orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang hidup dalam kejahatan. Seharusnya keturunan Set menjadi roll model bagaimana hidup dalam kebenaran bagi keturunan Kain, tapi sebaliknya mereka malah kawin campur dengan keturunan Kain dan menghasilkan cara hidup yang semakin rusak.

Saudaraku, Ketika anak-anak Tuhan tidak lagi berdiri diatas kebenaran murni, maka itu menunjukkan bahwa dunia semakin hancur dan jahat. Karena hanya dengan berdiri diatas kebenaran seorang bisa menjadi terang bagi dunia yang penuh dengan kegelapan. Jika orang yang berkata ia anak Tuhan namun tidak lagi berdiri diatas kebenaran apalagi yang bisa diharapkan? Bagaimana lagi bisa berdampak baik bagi orang yang tinggal dalam kegelapan?

Anak-anak Tuhan harusnya memiliki cara hidup yang berbeda dengan orang-orang duniawi, kalau cara hidupnya sama? Apa lagi yang menjadi daya tarik dimana orang dapat membedakan diri kita dengan mereka? apa lagi yang menjadi instrumen kita untuk mengarahkan orang untuk datang kepada Tuhan?   

Ayat 3, Berfirmanlah Tuhan: ”Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” Roh Allah tidak mungkin berdiam dalam diri manusia, ketika mereka hanya hidup untuk memuaskan keinginan daging.

Ayat 5, Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 6 maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 7 Berfirmanlah Tuhan: ”Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Bagian ini menegaskan kepada kita bahwa Allah serius dengan dosa! Karena itu dalam Roma 6:23, “Sebab upah dosa ialah maut;…” Allah tidak pernah kompromi terhadap dosa.

Ayat 8, Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Kasih karunia adalah hak Allah. Saudaraku, mungkin kita bertanya mengapa Nuh mendapat kasih karunia Allah? Banyak sekali orang akan menjawab, kejadian 6:9, “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Jika jawabanya demikian maka bisa jatuh pada kesimpulan bahwa orang bisa mendapat kasih karunia karena perbuatannya. Jadi apakah kasih karunia Allah ditentukan oleh perbuatan manusia?

Apalagi ketika membaca bahwa Nuh seorang yang benar, tidak bercela. Apakah keterangan ini menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berdosa dan layak menerima kasih karunia Allah? Saudaraku, jika kasih karunia Allah didapat karena orang hidup benar, tak bercela, tanpa dosa, pertanyaannya siapa diantara kita yang yakin bahwa ia memenuhi standar Allah untuk mendapat kasih karunia Allah?

Sedangkan bagian Alkitab lain sangat jelas mengatakan, Mazmur 51:7 “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Roma 3:10 “seperti ada tertulis: ”Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.” Artinya bahwa Nuh adalah manusia berdosa yang sama dengan kita, dia bukan manusia yang sempurna, tetapi yang membuat dia berbeda dengan orang yang sezamannya adalah “Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan”.

Karena itu saudaraku, kasih karunia dalam bahasa Ibrani “khane” artinya anugerah, kemurahan hati (Favor), kebaikan yang tidak layak diterima. Artinya berbicara mengenai kasih karunia itu adalah hak prerogatif atau hak istimewa yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Allah berhak menyatakan belas kasihan kepada siapapun ia mau bukan berdasarkan perbuatannya. Jadi kenapa Nuh bisa hidup beriman, taat, berkenan, hidup benar? Jawabannya adalah karena Nuh mendapat kasih karunia Allah! Bukan perbuatannya yang menggerakkan kemurahan hati Allah, tapi kemurahan hati Allah menolong dia hidup benar dan beriman pada Allah. Karena jika berdasarkan perbuatan manusia maka Nuh juga tidak menenuhi standar, mengapa? Lihat Kejadian 9:20-21, “Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. 21Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.” Setelah Allah menyelamatkan dia dan keluarganya, setelah Allah memberikan janji yang begitu indah ia malah berbuat dosa, dan mengutuk anaknya.

Saudaraku, benar-benar sulit dimengerti, bahkan sulit untuk diterima oleh pikiran kita, ya memang sulit! Itulah kasih karunia Allah melampaui pikiran kita yang terbatas. Karena itu saudaraku, bersyukurlah kepada Tuhan ketika hari ini kita beriman kepadaNya, itu adalah kasih karunia, bersyukurlah jika sampai hari ini kita dapat mengerti kebenaran dan dimampukan untuk melakukannya, itu adalah kasih karunia Allah. Amin! Tuhan Yesus memberkati!



JOIN OUR MAILING LIST:

© 2017 Ferdy Gunawan
ADDRESS:

2401 Alcott St.
Denver, CO 80211
WEEKLY PROGRAMS

Service 5:00 - 6:30 PM
Children 5:30 - 6:30 PM
Fellowship 6:30 - 8:00 PM
Bible Study (Fridays) 7:00 PM
Phone (720) 338-2434
Email Address: Click here
Back to content