MAKE JESUS THE CENTER OF YOUR LIFE

PERSEKUTUAN INDONESIA RIVERSIDE
Go to content

MAKE JESUS THE CENTER OF YOUR LIFE

Persekutuan Indonesia Riverside
Published by Olwin Gosal in 2026 · 11 January 2026
MAKE JESUS THE CENTER OF YOUR LIFE


Saudaraku, ada pertengahan abat ke 2 ada seorang uskup di jemaat Smirna yang bernama Polikarpus. Polikarpus adalah murid langsung dari Yohanes, artinya bahwa ia masih berjumpa dengan orang yang menjadi saksi mata kehidupan Yesus dan Para rasul. Pada masa itu orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan berteriak, "Enyahkan orang-orang kafir." Polikarpus meninggalkan kota karena diminta oleh orang-orang untuk bersembunyi di sebuah ladang milik temannya. Ketika prajurit mendatangi ladang tersebut, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?" Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya. Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!"

Ketika tiba ditempat pembantaian, Gubernur Romawi berkata pada Polikarpus: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!" Polikarpus pun berdiri dengan tegar dan berkata, "Selama 86 tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?" Gubernur Romawi mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk." Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, tetapi api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Gubernur Romawi memerintahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api namun tercium aroma yang harum, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." Ketika seorang algojo menikamnya, darahnya mengalir memadamkan api itu. Demikianlah Polikarpus mati dalam kesetiannya kepada Tuhan Yesus.

Saudaraku pernahkah kita bertanya dalam diri, milik siapakah saya? Kepada siapakah saya memusatkan diri? Banyak orang meyakini bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri, dan itu juga yang banyak diajarkan dalam kelas-kelas motivasi. Pertanyaannya, pernahkah kita merencanakan untuk hidup dalam dunia ini? Atau pernahkah kita dimintai pendapat bagaimana, dimana, kapan kita hidup? Jawabannya tidak! Karena ketika kita sadar ternyata kita sudah hidup!

Saudaraku, memasuki tahun baru 2026 ini, Tuhan membawa kami merenungkan apa pusat kehidupanmu? Dan kepada siapa engkau memusatkan hidup? Untuk siapa kita melakukan segala sesuatu? Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan dengan temaMake Jesus The Center of Your Life”.

Mari kita membuka Alkitab Roma 14:8-9, “If we live, we live for the Lord; and if we die, we die for the Lord. So, whether we live or die, we belong to the Lord. For this very reason, Christ died and returned to life so that he might be the Lord of both the dead and the living.”

Saudaraku, ayat ini ada dalam konteks ketika Paulus sedang memberikan nasehat kepada jemaat Roma untuk mereka tidak saling menghakimi berkaitan dengan soal makanan dan hari-hari tertentu. Paulus mau menegaskan bahwa mereka bukanlah tuan atas kehidupan orang lain, sehingga mereka tidak mempunyai hak apapun untuk mengatur. Dalam ayat 4 dikatakan, “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” Selanjutnya dalam ayat 7 dikatakan, “Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.” Ternyata tidak seorangpun berhak untuk dirinya sendiri. Jadi hari ini kita mau renungkan bersama bahwa seharusnya Tuhan Yesus berhak penuh atas hidup kita dan menjadi pusat kehidupan kita?

Mengapa kita harus menjadikan Yesus pusat hidup?

1. Karena kita adalah milik Tuhan.

Saudaraku, jawaban milik siapakah kita dan kepada siapakah kita seharusnya memusatkan hidup sangat jelas dikatakan “jadi baik hidup atau mati kita adalah milik Tuhan”. Karena itu sangat mengherankan ketika seorang tidak mengakui bahwa ada Allah yang telah menciptakan dia. Hidup kita adalah milik Allah dan Ia harus menjadi pusat kehidupan kita. Alangkah bodohnya dirinya ketika seorang menolak Allah untuk berdaulat sepenuhnya dalam hidupnya. Adapun orang yang percaya bahwa Allah menciptakan hidupnya, dan pemilik hidupnya namun menolak mengakui bahwa Allah berhak penuh atas hidupnya! Oleh sebab itu dalam bagian pertama ini kita mau renungkan bahwa ternyata hidup kita miliki Tuhan dan Ia berdaulat penuh atas hidup kita.

Saudaraku, dikatakan dalam ayat 8 “sebab jika kita hidup,… dan jika kita mati”, ini menunjukkan bahwa dalam segala kondisi, baik hidupnya maupun matinya seseorang adalah untuk Tuhan. Hidup dan mati untuk Tuhan berarti dipersembahkan kepada Tuhan. Artinya seorang tidak hidup untuk kepentingan, kepuasan, kesenangan dan tujuan diri sendiri melainkan semuanya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan apa kehendak Allah, harus berjalan sesuai rencanaNya, dan harus berpusat pada Tuhan. Paulus mau tegaskan bagaimana hidup dan mati kita itu dihadapan Tuhan untuk memuliakan Tuhan.

Kita hidup untuk Tuhan…dan mati untuk Tuhan”, berbicara hidup dan mati berarti tidak hanya mengenai satu aspek, namun berbicara mengenai seluruh kehidupan, bukan hanya mengenai kehidupan “rohani”, ibadah, pelayanan dan lainnya yang berkaitan dengan itu, namun bicara mengenai keutuhan sebuah kehidupan, bagaimana kita hidup dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan dan lain sebagainya, dan bagaimana kita mati.

Hidup dan mati bagi Tuhan menegaskan bahwa kisah perjalanan kita bukan tentang diri kita sendiri, tetapi kisah tentang Allah yang berkarya di dalam kita. Sudah sepatutnya kita menjadikan Yesus pusat kehidupan kita. Ketika kita mengalami hal apapun dalam hidup ini kita ingatkan bahwa ini bukan tentang saya, tapi tentang Allah yang berkarya sehingga kita tidak akan dikuasai ketakutan. Hidup ini milik Tuhan dan untuk Tuhan maka tidak mungkin Ia diam, atau tidak mungkin Ia merancangkan kecelakaan, tidak mungkin Ia merancangkan kehancuran. Tapi Ia akan membentuk dan mendidik dan menuntun kita pada tujuanNya dan sesuai dengan cara dan kehendakNya. Bahkan ketika orang lain menyakiti dan menjahati kita, kita tidak akan mendendam dan terpuruk karena bukan kita yang disakiti tapi orang tersebut menyakiti hati Tuhan, kita tidak dikuasai dendam melainkan sebaliknya dikuasai oleh kasih Allah, untuk mendoakan orang tersebut dihadapan Allah.

Jika kita berkata bahwa hidup saya milik Tuhan, maka kita perlu bertanya dalam diri : apakah kita menyertakan Tuhan dalam setiap keputusan hidup yang kita ambil setiap hari? Bagaimana kita menjalani hari-hari hidup kita dengan menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita?

2. Karena kita ditebus dan diselamatkan oleh Yesus.

Mampukah kita yang mati secara rohani memusatkan hidup kepada Tuhan?

Kita manusia berdosa yang tidak dapat menyenangkan Tuhan apalagi menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita. Kita memerlukan Tuhan Yesus untuk menebus dan menyelamatkan kita. Dalam ayat 9 dikatakan, “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”

Saudaraku, Kristus telah mati dan hidup kembali supaya kita memiliki hidup yang berpusat padaNya. Paulus katakan dalam Galatia 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Sekarang kita telah dimampukan Tuhan untuk memusatkan hidup kepadaNya dan Dia mau mengerjakan karya-karya ajaib dalam hidup kita. Paulus tidak mau menyia-nyiakan keselamatan yang telah dia terima. Dia mau memusatkan seluruh hidupnya untuk bekerja bagi Tuhan. Dalam 1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Jadi ketika menjalani hari-hari kita, kita perlu bertanya dalam diri kita :

Apakah kita mengutamakan Tuhan dalam setiap keputusan hidup yang kita ambil setiap hari? Bagaimana kita menjalani hari-hari hidup kita dengan menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup kita?



JOIN OUR MAILING LIST:

© 2017 Ferdy Gunawan
ADDRESS:

2401 Alcott St.
Denver, CO 80211
WEEKLY PROGRAMS

Service 5:00 - 6:30 PM
Children 5:30 - 6:30 PM
Fellowship 6:30 - 8:00 PM
Bible Study (Fridays) 7:00 PM
Phone (720) 338-2434
Email Address: Click here
Back to content