Characteristics of a true believer (Part 1)
Published by Olwin Gosal in 2025 · 12 October 2025
Characteristics of a true believer (Part 1)
Mencintai pengajaran firman Tuhan
Pada perenungan sebelumnya saya sudah sampaikan mengenai bagaimana iman yang sejati. Selanjutnya dalam beberapa minggu kedepan saya akan sampaikan bagaimana kehidupan seorang yang memiliki iman yang sejati. Melalui perenungan firman Tuhan ini kita dapat menilai diri kita sendiri, apakah kita adalah seorang yang memiliki iman sejati.
Mari kita membaca Alkitab dari Kisah Para Rasul 2:41-42, “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Dikatakan orang-orang yang menerima perkataan itu. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang berdosa, bahkan dikatakan merekalah yang telah menyalibkan dan membunuh Yesus, berarti mereka orang-orang yang sangat jahat dan sama sekali tidak mengerti kebenenaran Allah. Namun dikatakan mereka menerima perkataannya itu, artinya menyetujui dengan pikiran mereka dan mempercayai dalam hati mereka. Perkataan Petrus semua berisi injil tentang Yesus, tentang sengsara dan kematiaannya, tentang kebangkitan-Nya, dan tentang Yesus yang adalah Tuhan. Pada akhir khotbahnya Petrus menyeruhkan pertobatan, ayat 2:38 “Peter replied, “Repent and be baptized, every one of you, in the name of Jesus Christ for the forgiveness of your sins. And you will receive the gift of the Holy Spirit.” Kita melihat dalam bagian ini ketika Injil diberitakan ada orang-orang berdosa yang percaya dan bertobat, ini bukan pekerjaan manusia namun sepenuhnya karya Roh Kudus. Selanjutnya dikatakan memberi diri dibaptis, ini merupakan suatu tindakan iman yang nyata, mau menyaksikan bahwa mereka sudah percaya pada Yesus, mau menyerahkan diri dan siap mengikut Dia.
Saudaraku, itulah langkah awal yang menunjukkan bahwa seorang beriman kepada Yesus, namun ternyata tidak hanya sampai disitu. Pertobatan secara masal lewat khotbah Petrus saja tidak cukup, karena itu para rasul dipimpin oleh Roh Kudus untuk melanjutkan pelayanan terhadap orang-orang yang baru percaya kepada Kristus.
Dalam ayat 42 ini kita mau melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang pada saat ini ketika mereka sudah percaya kepada Kristus, dikatakan “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam Persekutuan”. Characteristics of a true believer yang pertama adalah bertekun dalam perngajaran firman Allah. Kata bertekun dalam Bahasa Yunani προσκαρτεροῦντες (proskarterountes) (Verb-Present Participle Active - Nominative Masculine Plural) artinya "to continue to do something with intense effort, with the possible implication of despite difficulty. Dalam NIV dikatakan “They devoted themselves” artinya mereka sungguh-sungguh mengabdikan diri, menunjukkan kesetiaan mereka. Banyak tantangan, pergumulan, ejekan bahkan aniaya yang dihadapi orang percaya mula-mula namun mereka tidak menyerah untuk terus bertekun dalam pembelajaran firman Tuhan.
Mengapa mereka bertekun?
Pertama, Karena mereka mau mengenal lebih dalam siapa Yesus yang mereka Imani. Para rasul adalah orang-orang yang dipilih khusus oleh Tuhan Yesus untuk mengikut dan melayani bersama-Nya, mereka hidup bersama dan setiap waktu Yesus mengajar. Jadi para rasul adalah saksi mata akan kehidupan Yesus sampai Ia naik ke sorga, tentu mereka sangat mengenal Yesus, mengerti pengajaran, cara hidup dan teladan yang telah Dia berikan kepada mereka, inilah yang membuat jemaat mula-mula bertekun mendengarkan pengajaran para rasul karena mereka ada sumber utama dari berita tentang Kristus dan semua yang telah Ia ajarkan.
Para rasul melakukan apa yang Tuhan Yesus perintahkan kepada mereka dalam Matius 20:20 “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jadi para rasul bukan hanya berkhotbah dan meninggalkan mereka begitu saja, tapi mereka memberi diri untuk mengajar dibait Allah bahkan di rumah-rumah orang percaya pada saat itu.
Kita melihat dalam bagian ini bahwa Iman yang sejati pasti menghasilkan kerinduan dan kehausan untuk bertekun dalam pengajaran firman Tuhan, supaya mereka semakin mendalam mengenal Kristus. Dalam Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”, seorang dapat beriman kepada Kristus karena mendengar firman Tuhan, dan iman hanya dapat bertumbuh ketika terus bertekun mendengar firman Tuhan. Seorang yang mengaku Kristen namun tidak bertekun dalam firman Tuhan, maka perlu dipertanyakan apa benar dia sudah beriman? Atau sebenarnya hanya sebatas identitas dan dihidupnya belum ada Roh Allah.
Saudaraku, ada orang-orang Kristen masa kini yang berkata tidak usah repot-repot belajar tentang pengajaran yang penting sudah percaya Yesus pasti masuk surga. Orang-orang seperti ini hanya suka yang praktis-praktis, gampang-gampang, suka dengan khotbah yang hanya menyenangkan telinga dan hanya senang dengan kesaksian-kesaksian yang seakan luar biasa tanpa dasar pengajaran yang benar. Dan orang-orang yang demikian sangat mudah disesatkan.
Kedua, Mereka mau mengisi pikiran mereka dengan perkataan Kristus. Mereka sadar bahwa sebelum mereka percaya kepada Kristus, apa yang masuk dalam pikiran mereka adalah semua yang berasal dari kuasa kegelapan, segala keinginan duniawi yang bertentangan dengan dengan kehendak Allah, semua pikiran sia-sia yang membuat mereka hidup rusak dan tanpa tujuan yang benar. Dan ketika sudah percaya kepada Kristus mereka sungguh-sungguh berbalik dan mengisi pikiran mereka dengan kebenaran-kebenaran Allah yang kudus, kebenaran yang menolong mereka mengerti tujuan Allah dalam hidup. Dalam Kolose 3:16 dikatakan, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”
Saudaraku, tujuan utama Allah memberikan manusia akal budi adalah supaya dapat mengenal Dia, mengerti apa yang Ia ajarkan sehingga dengan demikian dapat hidup menurut kehendakNya. Jadi jika manusia belum atau tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal Allah dan semua ajaranNya maka sebenarnya ia belum menggunakan pikirannya sesuai tujuan utama yang Allah rindukan. Kondisi yang sangat menyedihkan di dunia hari malah banyak orang yang menggunakan pikirannya untuk menentang Allah, bahkan dengan segala kemampuan dan teori berusaha untuk membuktikan bahwa Allah tidak ada atau Allah sama sekali tidak punya kuasa apapun terhadap manusia.
Dalam ayat 46a, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.” Dikatakan tiap-tiap hari ini menunjukkan ketekunan dan kehausan yang sungguh mendalam untuk mengenal Allah. Apakah mereka tidak bekerja? Tidak mungkin! Apakah tidak mengurus keluarga? Tidak mungkin! Saya percaya mereka ada orang-orang yang juga punya kesibukkan, namun semuanya itu tidak menjadi alasan atau penghalang bagi mereka untuk bertekun mengenal Kristus. Saudaraku, bagaimana dengan kita hari ini? kita mengaku orang yang beriman? Sudah sejauh mana kita merindukan firman-Nya?
Kita datangnya seminggu sekali dalam mendengarkan pengajaran, sedihnya itupun sering terlambat, ditambah lagi saat dengar sambil mengantuk-mengantuk, complit sudah! Saudaraku, apakah dengan begitu kita sudah mempersiapan diri untuk bertemu dengan Tuhan? Apakah berjumpa dengan Allah dalam ibadah benar-benar menjadi kerinduan yang mendalam bagi kita?
Dalam Galatia 1:10 dikatakan “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Saudaraku, saya terus belajar menjadi seorang hamba Kristus yang berusaha taat pada apa yang Tuhan sampaikan, saya tau mungkin itu menyinggung hati kita, tapi percayalah inilah kebenaran yang Allah mau saudara dan saya dengarkan. Percaya pada Injil yang sejati menghasilkan iman yang sejati dan iman yang sejati pasti menghasilkan kehausan dan kerinduan untuk mendengarkan pengajaran firman Allah dan rindu memperlajarinya secara pribadi. Kiranya Roh Kudus bekerja dalam hati kita sehingga semakin hari kita semakin harus akan firman-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin.